berQurban - Peduli Sekitar atau Hanya Prestise
Belum dapat disebut ‘berqurban’ jika dalam diri tidak tertanam semangat berkorban membantu meringankan beban penderitaan orang lain
Di Indonesia, Hari Raya Idul Adha atau
sering juga disebut Hari Qurban merupakan hari raya besar kedua setelah Idul Fitri.
Idul Adha dilihat sebagai hari besar, karena di dalamnya telah merekam kejadian penting, yaitu peristiwa penyembelihan Ismail oleh ayahandanya Nabi Ibrahim. Peristiwa tersebut merupakan batu ujian ketaatan Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengurbanan ini menjadi tradisi bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban baik berupa
kambing maupun sapi setiap tanggal 10 Dzulhijah dan hari-hari tasyrik (11,12 dan 13 Dzulhijjah).
Kata qurban berasal dari bahasa Arab qaraba-yuqaribu-qurbanan- qaribun, yang artinya dekat. Dengan begitu, sahabat karib berarti teman dekat. Makna qurban dalam istilah Islam berarti kita berusaha menyingkirkan hal-hal yang dapat menghalangi upaya mendekatkan kita pada
Tuhan. Penghalang mendekatkan itu adalah
berhala dalam berbagai bentuknya, seperti ego, nafsu, cinta kekuasaan, cinta harta-benda dan lain-lainnya secara berlebihan.
Qurban, sebagai ritual simbolik kelanjutan
pelajaran seorang Ibrahim, juga menunjukkan bahwa berbagai sandang dan status sosial sesungguhnya tak ada gunanya di mata Tuhan.
Alquran menyatakan, hanya ketakwaanlah yang diperhitungkan di sisi Allah.
Maka, dengan berqurban sesungguhnya adalah untuk membunuh berbagai ego tadi, yang dapat menjadi penghalang upaya ketakwaan kepada Allah. Haji dan kurban juga sama-sama melahirkan dan menumbuhkan rasa damai dan aman, serta keduanya sama-sama
membangkitkan semangat kebersamaan.
Dalam konteks Idhul Adha, pesan mendasar
dalam perintah berqurban adalah agar manusia tidak sesat dalam menjalani hidup. Untuk itu, harus selalu menjalin kedekatan dengan Tuhan dan merasakan kebersamaan dengan-Nya setiap saat. Karena manusia mudah sekali teperdaya
oleh kenikmatan sesaat yang dijumpai dalam perjalanan hidupnya, maka Allah memberikan metode dan bimbingan untuk selalu melihat kompas kehidupan berupa shalat dan zikir agar kapal kehidupan tidak salah arah. Kalau dalam konteks pemerintahan, pelajaran apa yang paling menonjol dari peristiwa perintah berqurban ini? Yang bisa kita cermati adalah aspek
kepemimpinan sangat fundamental pada pesan ini. Seorang pemimpin, menurut Islam, harus melayani dan mencintai, bukan yang dilayani. Karena dia (pemimpin-red) sesungguhnya diberi
amanat itu memang untuk melayani yang
memberi amanat tadi. Dia yang paling besar, lainnya itu kecil. Janganlah
kecintaan terhadap dunia dan seisinya itu
menghalangi kita untuk menghayati keagungan Allah. Karena itulah, ketika berucap Allahu Akbar, berarti yang lain itu kecil. Dari konteks ini, hikmah terpenting adalah bagaimana kita dapat meneladani seorang Ibrahim dalam memimpin dan melahirkan pemimpin-pemimpin berikutnya.
Semangat Berqurban
Kita tentu tidak ingin, qurban yang akan dilakukan hanya menjadi prestise semata dari para “orang kaya”.
Coba kita lihat, hampir seluruh kepala daerah, menteri, hingga presiden. Di tambah lagi, mulai dari wakil rakyat kita yang duduk di DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi hingga DPR RI, seolah “berlomba” menyembelih kambing ataupun sapi. Tentunya baik semangat berqurban ini dilakukan
oleh mereka, namun sayangnya semangat
berqurban ini jarang sekali diikuti oleh semangat berkorban.
Dalam tatanan kehidupan sehari-hari, masih sangat sedikit pemimpin ataupun wakil kita yang benar-benar mampu mensinergikan semangat berqurban dengan berkorban. Apalagi jika
konteks berkorban tersebut untuk masyarakat yang dipimpin atau diwakili oleh mereka-mereka tersebut. Bahkan yang sering terlihat secara kasat mata adalah semangat berlomba“mengorbankan” harapan rakyat, demi kenikmatan diri dan keluarga masing-masing. Karena itu, secara substansial, orang yang setiap tahun melaksanakan qurban belum dapat disebut
‘berqurban’ jika dalam dirinya tidak tertanam semangat berkorban membantu meringankan beban penderitaan orang lain dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, meskipun tidak memiliki kekayaan untuk melakukan qurban tetapi
dalam dirinya telah mengkristal semangat
berkorban meringankan beban penderitaan orang lain, berarti mereka-mereka inilah (yang secara substansial) layak disebut pequrban sejati. Di tengah sederet persoalan ketidakmampuan negeri yang sedang membangun ini, tentunya kita berharap, berqurban tidak hanya berarti
konkretisasi kepatuhan kepada Tuhan yang
diterjemahkan melalui ritual saja, tetapi lebih dari itu tercermin pula dalam perilaku sosial bermasyarakat. Sehingga secara moral dan sosial, qurban dapat melahirkan nilai praktis dalam menyelesaikan berbagai problematika kehidupan masyarakat, serta mampu memberikan kontribusi yang konstruktif untuk kemaslahatan manusia seluruhnya.
Bantuan yang diberikan pun tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa dengan apa pun yang dapat kita sumbangkan demi penyelesaian
problematika sosial masyarakat. Misalnya,
sumbangan pikiran, motivasi, tenaga dan lainnya. Sifat memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap masyarakat lemah, tidak taat aturan, bertindak amoral, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat yang memprihatinkan, menunjukkan bahwa qurban yang dilakukan selama ini belum mampu
memberikan kontribusi positif untuk memperbaiki diri dan menata tatanan sosial yang lebih baik.
Makna Berqurban
Jika para pemimpin kita tidak memiliki semangat berkurban dan mencintai, lebih-lebih kepada rakyatnya sendiri, bangsa ini akan hancur. Harus diingat, kehancuran suatu bangsa itu dimulai ketika para elite-nya berbuat fasik, zalim, maksiat, dan tidak mengindahkan hukum. Maka
kehancuran akan terjadi.
Memimpin adalah mencintai orang lain, dan
mencintai berarti siap berkurban. Jadi, adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin untuk memiliki kesediaan berkurban yang didorong rasa cinta terhadap sesamanya yang didasari cinta
pada Allah. Saat ini, kita tidak memiliki pemimpin yang demikian ini.
Yang ada adalah kesediaan para elite dan
pemimpin berkurban untuk diri dan golongannya sendiri, sembari sama-sama mengklaim berkurban untuk rakyat. Mereka-mereka inilah yang sesungguhnya berandil besar dalam mengantarkan bangsa ini ke jurang kehancuran.
Lihatlah para pemimpin rakyat di masa lalu.
Keluar masuk penjara pun mereka lakukan untuk menegakkan keadilan, melawan penindasan, yang itu semua adalah cermin kesediaan mereka berkurban demi rakyat dan bangsanya. Oleh karenanya, umat Islam yang merayakan Idul Qurban tiga hari mendatang sudah seharusnya berupaya menggali makna yang
terkandung di dalamnya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ibadah qurban ini hanya menjadi rutinitas yang miskin makna, hanya sampai pada proses penyembelihan hewan qurban, mendistribusikannya dan pesta sate sepuas-puasnya.
